Blog Guru PKn, Blog Mbak Srie, Blog Indonesia Mengajar:

Aku menyempatkan diri berfoto di depan Masjid At-Taqwa Bondowoso

Bondowoso kota kecil dengan akses tertutup, dijuluki kota pensiun. Entah siapa yang memberi gelar itu...Sepi...!!!

Bimtek Pengembangan Karier P2TK 2012

Program ke-2 yang dilaksanakan dalam rangkaian Bimtek Pengembangan Karier P2TK melalui MGMP PKn SMP Bondowoso: Pembuatan Modul PKn

Masih dalam rangkaian Bimtek Pengembangan Karier P2TK: Modul

Menyusun Modul dirasakan mudah, tinggal bagaimana menghargai karya nyata ini menjadi perbuatan nyata: menerapkan dalam proses pembelajaran

Bimtek Pengembangan Karier P2TK: Pembuatan Alat Peraga PKn

Alat peraga dengan karakteristik PKn disajikan dengan apik oleh Pakarnya. Diharapkan menjadi karya monumental bernilai tinggi.

Presentasi Alat Peraga: Rangkaian Bimtek Karier P2TK

Bagian nyata dan serius dilakukan dalam menghasilkan karya yang berarti, yaitu presentasi pematangan hasil kerja kelompok

Pengembangan Silabus berkarakter dan bernilai Pancasila dan Konstitusi: Rangkaian Bimtek Karier P2TK

Disajikan oleh Pak Milan dari P4TK PKn-IPS Malang. Pak Milan Riyanto merupakan ketua Lab PKn P4TK PKn-IPS Malang

Diskusi Pengembangan Silabus bernilai Pancasila dan Konstitusi: Rangkaian Bimtek Karier P2TK

Antusias dan bermakna, bukan karena dapat dana P2TK, lain dari itu menunjukkan pengembangan profesionalisme itu bukan isapan jempol, tapi begitu nyata!

Tampilkan postingan dengan label spektakuler UN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spektakuler UN. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juni 2012

UN 2012 SPEKTAKULER=BERHASIL?

Baru berlalu "gawe" besar dilalui oleh jajaran Dinas Pendidikan di semua kabupaten Indonesia. Pro dan kontra penyelenggaraan dan keabsasahan pelaksanaan UN sudah tidak menjadi polemik lagi. Tapi kita harus merenung, mengapa ada kontra waktu itu dan mengapa sekarang tidak muncul? Tentu sederhana jawabannya, karena waktu itu banyak yang gagal menyelenggarakan UN, indikatornya adalah banyaknya siswa yang tidak lulus. Kalau sekarang tidak ada kontra lagi, karena masing-masing institusi (sekolah) telah "berhasil" menyelenggarakan UN tersebut.


Ketika gagal kita sering mengeluh, ketika berhasil kita diam, tanpa ada kupasan dan komentar apapun. Keberhasilan tahun 2012 ini luar biasa, karena rerata meningkat, jumlah peserta yang gagal juga menipis. Mestinya nada kebanggaan dimana-mana akan terungkap, tapi tidak. Diam dan membisu. Tentu ada apa-apanya? Sudahlah pertanyaan itu kita jawab dalam hati. Bagi yang punya pemikiran miring tentang keberhasilan ini, saya mengajak, mari kita tebus dengan semakin meningkatkan proses pendidikan yang selama ini seperti dagelan wayang kulit. Kita tapakkan sendi-sendi pendidikan yang luhur untuk mencerdaskan anak-anak tanpa mekanisme yang instan. Memperdalam metodologi dan profesionalitas merupakan jawaban utama. Hal ini sesuai dengan "karep" pemerintah dengan louncing sertifikasinya. Semoga tidak terjadi "lelah mental" bagi kita untuk mengulangi cara-cara yang buruk. Karena pada saatnya, 5 atau 10 tahun mendatang pasti kita petik hasilnya. Generasi-generasi instan akan lahir di bumi pertiwi.
Generasi instan nanti akan tergambar dengan sendirinya, tanpa merasakan kesulitan belajar dapat meraih prestasi spektakuler! Akan membentuk mental-mental instan yang berdampak pada otoritas keilmuan mereka. Yang menjadi pertanyaan, apakah para birokrat pendidikan memikirkan hal ini? Syukur bila kedepan ada langkah-langkah persuasif untuk mencegah keburukan ini terjadi. Atau kembali publik memancing dengan polemik "pro dan kontra" seperti tahun yang lalu.